Orgasm in science: Hal Dasar yang Sering Dilewatkan

Saat saya mengutarakan keinginan saya untuk melanjutkan study dan mengambil jurusan Sport Science, salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul kemudian adalah "belajar apaan tuh? olahraga kok pake science?" Saya sama sekali tidak kaget setiap kali menerima pertanyaan ini, bagaimana tidak, negri yang katanya gila sepakbola ini masih menganggap olahraga hanyalah sebuah aktivitas fisik semata. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan pelatih tim nasional sepakbola, Jacksen F. Tiago, di mata najwa, "Di Indonesia, pemain yang dikatakan berbakat adalah pemain yang mampu menggiring bola melawati banyak pemain." Cara penilaian yang bahkan negara Malaysia sudah meninggalkannya.

Science, dalam olahraga, apapun itu olahraganya memang masih terbelakang di Indonesia. Melalui rangkaian artikel yang akan saya share di blog ini,saya ingin coba menjawab pertanyaan yang sering diajukan kepada saya diatas dengan memperkenalkan ilmu pengetahuan yang diterapkan di olahraga, khususnya sepakbola. Secara sederhana, semua olahraga apapun itu pasti terdapat interaksi sosial didalamnya. Tidak peduli apakah olahraga yang dilakukan adalah olahraga prestasi, rekreasi, atau olahraga untuk kesehatan. Sepakbola akan mempertemukan 11 orang yang seringkali berasal latarbelakang yang berbeda dalam satu tim, begitu pula dengan olahraga berkelompok lainnya. Olahraga perorangan seperti marathon pun akan mempertemukan interaksi sosial di dalamnya. Interaksi antara sang atlet dengan pelatih, antar sesama atlet, dengan pengurus, dan yang lainnya. Dan tujuan dari olahraga tidak akan bisa tercapai jika interaksi yang terjalin tidak baik, apapun itu tujuannya. Prestasi tidak akan datang, kesenangan tidak akan terasa, tubuh yang sehat pun tidak akan bisa didapat jika kita berolahraga dalam lingkungan yang tidak harmonis. it's a science, Sociology.

Masih jelas diingatan saya ketika Boaz salosa beberapa kali mangkir dari panggilan tim nasional. Bukan hanya Boaz, beberapa pemain asal Papua sering kali melakukan tindakan yang dianggap indisipliner ketika harus bermain untuk tim nasional. Padalah sejauh ini saya tidak pernah mendengar Jackson F. Tiago mengeluhkan ada pemain yang mangkir saat Persipura latihan atau menolak ikut bertanding untuk Persipura. Apakah mereka tidak nasionalis? Saya pikir terlalu jahat jika langsung menuduh seperti itu. Culture Shock, mungkin ini penyebab yang lebih logis untuk tindakan indisipliner yang kerap ditunjukan para pemain asal Papua. Bayangkan saja jika tiba-tiba anda diutus oleh kantor anda untuk pindah kerja di kantor cabang Papua atau pulau-pulau lain yang masih asing untuk diri anda. Tanpa arahan, tanpa penjelasan bagaimana kondisi disana, mungkin ada sebagian dari kita yang bisa sedikit demi sedikit beradaptasi untuk menyatu dengan lingkungan baru tersebut. Namun saya yakin jauh lebih banyak yang akan tidak nyaman dengan kondisi lingkungan yang sangat asing tersebut. Lalu saat hari raya, anda diberi libur 1-2 minggu untuk pulang ke kampung halaman. Setelah masa libur habis, berapa banyak diantara kita yang tidak antusias menyambut hari keberangkatan ke tempat kerja. Berapa banyak yang akan berusaha mencari alasan untuk setidaknya menunda keberangkatan 1 atau 2 hari agar lebih lama berada di kampung halaman. Tempat dimana anda merasa paling nyaman.

Mungkin itulah yang terjadi pada Boaz Salosa dan pemain-pemain lain yang sering datang terlambat saat dipanggil tim nasional. Tentu tidak bisa juga kemudian dilakukan pembenaran terhadap tindakan-tindakan indisipliner tersebut hanya karena alasan seperti ini. Bagaimanapun juga mereka adalah pemain berlabel profesional yang sama seperti anda seorang profesional di dunia pekerjaan anda masing-masing, ketika anda berbuat indisipliner apapun itu alasannya, konsekuensi akan tetap diberlakukan. Namun mungkin ada baiknya juga agar dilakukan evaluasi dari kedua belah pihak, pihak manajemen juga sebaiknya bisa mengontrol situasi dalam tim agar semua pemain dapat merasa nyaman selama membela tim nasional. Kita lihat saja sekarang ketika tim nasional dipegang oleh Jackson F. Tiago yang notabene lebih mengenal para pemain asal papua tersebut, tidak pernah lagi terdengar isu-isu tindakan indisipliner yang dilakukan oleh pemain-pemain dari Papua.

Sosiologi juga mengenal istilah Solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik adalah solidaritas yang terbentuk akibat kesamaan pada suatu hal yang biasanya orang-orang tidak memiliki cukup alasan untuk menjawab mengapa mereka berkumpul. Solidaritas organik adalah solidaritas yang terbentuk akibat fungsi dari masing-masing individu yang saling terkait satu sama lain. Solidaritas mekanik dianggap solidaritas yang lebih sederhana karena biasanya tidak ada pembagian tugas yang jelas dari perkumpulan itu, mereka berkumpul hanya karena mereka merasa harus berkumpul. Karena merasa sama, orang yang tidak dikenal pun akan langsung dianggap kawan. Berbeda dengan solidaritas mekanik yang sudah mengenal pembagian tugas yang jelas bagi setiap individu. Mereka berada di dalam perkumpulan tersebut karena mereka memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing. Karena ini pula solidaritas mekanik sering disebut solidaritas pedesaan sedang solidaritas mekanik adalah solidaritas perkotaan.

Dalam sepakbola, 2 bentuk solidaritas ini terlihat jelas dari hubungan antar suporter dan hubungan antar pemain dilapangan. Pada dasarnya suporter dan pemain adalah 2 kelompok yang terpisah namun saling mempengaruhi satu sama lain. Suporter membutuhkan pemain untuk menyaksikan pertandingan di lapangan, pemain membutuhkan suporter untuk meningkatkan performa dilapangan. Saat ini di Indonesia, hubungan solidaritas yang terbentuk antar suporter adalah solidaritas mekanik, mereka berkumpul karena kesamaan pada suatu tim, mereka hadir kelapangan untuk mendukung tim tanpa adanya pembagian tugas yang jelas dan tanpa alasan yang jelas. Sedangkan hubungan solidaritas antar pemain di lapangan adalah solidaritas organik. Setiap pemain memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing untuk membawa tim pada kemenangan.

Idealnya, solidaritas mekanik dan organik secara bersamaan terbentuk pada solidaritas antar suporter dan solidaritas antar pemain. Saat ini, suporter datang kelapangan untuk mendukung tim kesayangannya. Mereka akan mendapatkan kepuasan pribadi ketika tim kesayangannya berhasil memenangkan pertandingan, terlebih jika menghadapi tim rival. Sayangnya, kebanyakan dari suporter di Indonesia belum menyadari fungsi mereka sebagai suporter bagi tim kesayangan. Suporter adalah aset paling berharga bagi setiap klub sepakbola. Glasgow Rangers, klub sepakbola asal skotlandia, terselamatkan dari pailit akibat peran dari para suporter loyalnya yang langsung mengambil alih finansial klub. Setiap klub eropa rata-rata mendapatkan sekitar 30% pemasukan dari penjualan merchandise dan 30% dari penjualan tiket pertandingan dan 40% sisanya dari sponsorship. Maka terlihat jelas sumber pemasukan klub Eropa yang berasal dari suporter loyalnya adalah sebesar 60%, lebih dari setengah pemasukan klub. Pihak sponsor sendiri pasti tidak akan tertarik untuk memberikan dananya kepada tim yang tidak memiliki suporter.

Disinilah peran yang seharusnya diambil para suporter sepakbola. Suporter adalah daya tarik utama bagi setiap klub sepakbola untuk menarik sponsor. Hampir semua klub sepakbola di Indonesia memang memiliki jumlah suporter yang luar biasa. Rata-rata pertandingan ISL dihadiri tidak kurang dari 10ribu orang di lapangan. Namun sayang, semua menjadi tidak ada artinya ketika 10ribu orang tersebut berubah menjadi 10ribu orang yang anarkis dan tidak tertib. Membuat kericuhan, masuk tanpa membayar tiket/membeli tiket tidak resmi, memanjat pagar, mebawa benda-benda yang tidak seharusnya, mengeluarkan kata-kata rasis, dan berbagai macam tindakan negatif suporter yang masih banyak terjadi. Perusahaan mana yang mau memberikan dana besar untuk aktivitas yang lebih banyak meresahkan warga ketimbang kesenangannya. Ditambah lagi, klub menjadi tidak memiliki data yang valid soal berapa jumlah suporter yang ada. Perusahaan yang akan memberikan dana yang besar tentu bukan perusahaan abal-abal. Tentu tidak bisa pengurus klub mengajukan proposal dan menunjukan layar televisi yang menggambarkan tribun stadion penuh, namun setelah di cek ke data penjualan tiket, tiket yang terjual tidak lebih dari 30%. Lalu pengurus klub hanya berkata, "tiket memang tidak terjual banyak, namun lihat saja di televisi atau datang langsung ke stadion. stadion penuh." Kalimat seperti itu hanya akan membuat pengurus klub menjadi bahan ejekan. Perusahaan manapun pasti membutuhkan data yang jelas untuk menginvestasikan dananya ke suatu tempat. Dari data tersebut akan didapat hasil layak atau tidaknya investasi tersebut dikeluarkan. Untuk kasus klub sepakbola, data yang paling valid adalah data penjualan tiket pertandingan ditambah data penjualan merchandise ke suporter. Tidak peduli catatan pertandingan dan gambar di televisi menunjukan ada 20ribu orang menonton langsung di stadion, yang akan diambil oleh perusahaan adalah tidak lebih dari 3000 orang yang membeli tiket secara resmi.

Hal inilah yang seharusnya disadari para suporter, mereka memburu kepuasan dengan melihat kemenangan tim kesayangan, namun tindakan negatif mereka justrtu yang membuat kepuasan yang mereka cari itu tidak pernah datang. Tunjukan sikap yang positif, maka klub kesayangan akan mendapatkan dukungan finansial yang memadai, dengan begitu pemain akan dapat bermain dengan cemerlang, dan kemenagan pun hanya tinggal menunggu waktu yang artinya kepuasan pribadi yang mereka cari akan datang dengan sendirinya. Memang hal ini bukan sekedar taggungjawab dari para suporter saja, beberapa suporter sudah memiliki sikap yang benar namun sayang segelintir suporter ini tenggelam diantara suporter-suporter lain yang masih belum mengerti pokok permasalahan, Dari sini, peran pihak manajemen klub juga memiliki tanggungjawab untuk memberikan pengarahan-pengarahan tentang apa yang dibutuhkan klub dari para suporter. Dengan begitu, solidaritas mekanik yang sudah terbentuk pada diri suporter akan dilengkapi  dengan solidaritas organik  yang membuat suporter sadar akan fungsi dan tugasnya bagi klub kesayangan agar kepuasan pribadi yang mereka cari dapat tercapai.

My First Orgasm

video

Sedikit bernostalgia menuju 13 tahun yang lalu. Saat-saat dimana ketika siapapun orang yang bertanya apa cita-cita gw, gw akan jawab dengan tegas, "mau menjadi pemain sepakbola." 13 tahun yang lalu, pertama kalinya gw dikasih tau sama permainan ajaib ini bagaimana hebatnya perasaan jadi juara, perasaan yang kemudian hari gw ketahui bahwa itulah yang disebut orgasme.

Di turnamen ini gw maen di posisi centre back bareng presiden masa depan Indonesia, Azmi Basyarahil. Hasilnya, dari babak penyisihan sampe menang di final ga ada satupun gol yang masuk ke gawang. Seinget gw ini turnamen eksternal sekolah pertama yang gw ikutin, dan ga tau dapet ilham dari mana gw berhasil nerapin strategi offside trap dengan luar biasa (sebelomnya ini tanpa instruksi dari pelatih, baru dipertandingan ketiga disuruh diterapin gara-gara pertandingan pertama sama kedua berhasil dengan baik). Seenggaknya, 10 kali di setiap pertandingan gw berhasil ngebegoin striker lawan pake jebakan offside yang gw  bangun sama si Azmi. Tapi turnamen ga bakalan bisa dimenangin tanpa andil besar sang kapten haekal, kalo lw tonton videonya nih anak yang paling sering disebut namanya sama komentator, ya iyalah, semua setpiece dari mulai throw in, free kick, sampe goal kick hampir semuanya yang ngambil dia. Posisi aslinya jadi CM di tengah tapi tetep ngecover sampe ke depan belakang. Kabarnya sih ni anak sempet masuk tim mudanya persija tapi gagal gara-gara cedera parah. Sayang banget, kalo jadi pemain bola profesional bisalah sekarang dia jadi playmaker timnas bareng bustomi.

Seinget gw, ini formasi tim intinya.


Sebenernya dulu kita maen biasa aja, cuma tau formasi 4-4-2, kasih bola ke haeckal, trus haeckal kasih bola ke striker buat bikin gol. Tapi setelah gw pikir-pikir ditambah sedikit sotoy-sotoyan, pola permainan yang dimaenin lumayan canggih juga. Selain strategi bertahan offside trap yang diterapin pas bertahan, pola penyerangan yang diterapin juga lumayan canggih. Haeckal yang di plot jadi playmaker nguasain daerah tengah lapangan bareng Azzam yang lebih berperan sebagai ball winning midfielder. Umar dari sayap kiri berperan jadi inside forward yang sering nusuk ke tengah buat dobrak pertahanan sekaligus ngisi posisi dibelakang 2 striker sedangkan Toni di sayap kanan lebih jadi winger murni yang berfungsi ngebuka pertahanan lawan lewat pinggir lapangan. Di depan, dimaenain duet striker dengan tipe yang lagi populer di tahun akhir 90an, satu striker oportunis (riki), satu tipe poacher (Azis). Di belakang, kita maenin 4 back sejajar dengan 2 wingback yang ga terlalu banyak ikut kontribusi pas nyerang. Ini berguna pas kena serangan balik dan langsung siap pasang perangkap offside. 

Pola permainan kayak gini, banyak diterapin sama tim-tim eropa di akhir 90an. Biar kita sendiri yang maen ga sadar kalo lagi maen canggih kayak gini. Tapi emang dulu guru-guru SD gw suka bola semua, jadi niat latiannya. Malah seinget gw pas hari final ini sekolah diliburin biar semua guru sama murid-murid yang mau nonton bisa nonton. Gila ga, sekolah mana lagi yang ngeliburin sekolah cuma gara-gara ada tanding bola. 

Gw cuma nyimpen videonya, kualitas gambarnya masih jelek banget, maklumlah jaman dulu handicam begini aja udah keren, kalo sekarang kamera hp mungkin bisa bikin video lebih bagus dari ini. Trus juga ga semua pertandingan direkam, dulu masih pake kaset, takut ga cukup jadi dihemat-hemat. Tapi lumayanlah ini buat sedikit mengenang masa-masa kejayaan masa lalu. Kalo masih ada yang nyimpen foto-fotonya, boleh dong kirim ke gw. 

Thank You Captain


April fools day, saya selalu muak dengan tradisi ini. Hari yang katanya semua orang diperbolehkan membuat kebohongan untuk menipu orang lain, bagi saya adalah tradisi paling bodoh yang pernah ada. Biasanya saya tidak pernah menghiraukan jika orang-orang sedang melakukan tradisi aneh ini. Hanya saja, berbeda dengan tahun ini. Media sosial twitter tiba-tiba ramai dengan pemberitaan pensiunnya salah satu pemain sepakbola yang cukup berpengaruh di Indonesia, Bambang Pamungkas. Mengingat usianya yang sudah tidak muda dan sudah semakin banyak pemain muda berbakat yang siap menggantikan posisinya di tim nasional memang tidak aneh jika bepe memutuskan untuk pensiun. Namun, sekali ini saja saya berharap bahwa berita tersebut adalah salah satu lelucon di April fools day.

Sayang sekali, harapan saya ternyata tidak tercapai. Bambang Pamungkas benar-benar mengundurkan diri dari tim nasional. Piala AFF 2012 lalu adalah laga terakhirnya membela tim nasional. Tidak ada lagi kesempatan kita melihat aksinya di kualifikasi Piala Asia 2015 maupun di laga-laga tim nasional lainnya. Secara kemampuan memang sudah sulit bagi bepe untuk menembus starting XI tim nasional saat ini. Posisi striker sudah dipenuhi oleh nama-nama yang masih memiliki kualitas permainan lebih baik dari bepe. Sergio Van dijk, Boaz Salosa, Greg, Irfan Bachdim, dan bahkan kita masih memiliki beberapa nama pemain muda yang sudah bersinar seperti Titus Bonai dan Patrich Wanggai. Hanya saja, meski tidak bisa menembus starting line up, menurut saya bepe masih layak untuk hadir sebagai pemain pengganti di tengah pertandingan. Mungkin bukan sebagai pemain yang akan meningkatkan kualitas permainan, namun bepe sangat kompeten untuk meningkatkan kualitas mental tim di lapangan.

Pertandingan grup terakhir Piala AFF 2010 saat melawan Thailand bagi saya adalah aksi paling luar biasa dari seorang Bambang Pamungkas. Sekali lagi bukan karena kualitas permainannya, dia sering menunjukan aksi yang jauh lebih hebat ketika awal 2000an di zaman keemasannya. Namun ketika itu, bepe menunjukkan aksi yang saya rasa hanya bisa dilakukan oleh sedikit pemain sepakbola di Indonesia. Bepe masuk sebagai pamain pengganti di babak kedua dalam kondisi Indonesia tertinggal 1-0. Pertandingan tersebut memang sudah tidak terlalu berpengaruh karena Indonesia sudah dipastikan lolos grup, namun catatan yang menyebutkan Indonesia tidak pernah menang dari Thailand menyebabkan seluruh rakyat mengahrapkan 3 poin dari laga itu. Dan hasilnya, Bepe membalikkan keadaan dengan 2 golnya dari titik penalti. Lalu, apa hebatnya cuma 2 gol dari titik penalti? Memasukkan 2 gol dari titik penalti memang hal yang biasa saja, namun jika anda ingat kondisi Bambang Pamungkas saat itu anda baru bisa merasakan kehebatannya yang sesungguhnya.

Kondisinya Indonesia membutuhkan gol untuk menang saja sudah merupakan beban tersendiri bagi siapapun yang mengeksekusi penalti tersebut. Ditambah lagi, banyak orang yang sudah tidak setuju dipilihnya Bambang di tim nasional saat itu. Banyak pihak menilai Bambang sudah seharusnya diganti dengan pemain yang lebih muda. Eksekusi penalti itu benar-benar alat bukti bagi Bepe untuk menunjukan masih layak atau tidaknya dia berada di tim nasional. Saya hanya mencoba sedikit membayangkan jika saya yang berada di posisi Bepe saat itu, atau silahkan anda bayangkan sendiri jika anda yang di posisi itu. Tekanan sebesar itu, dan ambisi untuk membuktikan diri serta membungkam mulut orang-orang yang tidak suka dengan anda. Dilengkapi dengan harapan 200juta orang yang berharap negaranya menang malam itu. Saya hanya ingin bertanya terbuat dari material apa jantung Bambang Pamungkas yang tetap bisa menjaga dirinya untuk mengeksekusi penalti dengan tenang (bahkan penalti pertama sempat harus diulang satu kali).

Dalam beberapa kesempatan Bambang Pamungkas sering menyebutnya sebagai generasi yang gagal. Tidak ada yang salah dari pendapat itu. Mengingat tidak adanya kejuaraan yang berhasil Bepe menangkan bersama tim nasional Indonesia. Namun jika dikatakan bahwa Bepe tidak memberikan apa-apa bagi sepakbola Indonesia, saya sama sekali tidak setuju. Bambang Pamungkas sebagai seorang pemain sepakbola baik saat di lapangan maupun di luar lapangan telah memberikan banyak hal untuk sepakbola Indonesia.

Bagi para pemain sepakbola, Bambang adalah sosok pemimpin ideal di dalam maupun di luar lapangan. Pemain sepakbola profesional yang jumlahnya sangat sedikit di Indonesia. Tingkat profesionalitas yang sangat wajib ditiru oleh semua pemain sepakbola di Indonesia atau siapapun yang ingin menjadi pemain sepakbola Indonesia. Di lapangan, Bepe selalu mengajarkan bagaimana caranya bermain dengan tenang dan tidak terpengaruh suasanan, bagaimana seharusnya cara berdiskusi yang baik dengan wasit, bagaimana seharusnya bersikap dengan suporter, dan semua sikap yang dibutuhkan di lapangan. Saya sering menyebut Bambang Pamungkas sebagai pemain sepakbola paling jenius yang dimiliki Indonesia. Ya, permainan sepakbola bukan permainan yang hanya dimainkan dengan kekuatan fisik, namun juga membutuhkan tingkat intelijensi otak.

Bambang Pamungkas juga pemain yang paling vokal soal ketidakadilan yang dialami para pemain sepakbola. Keterlambatan gaji yang hingga saat ini masih menjadi masalah utama terus didesak Bambang Pamungkas untuk segera diselesaikan. Bepe tidak bersedia menerima kontrak dari tim nya Persija Jakarta karena bayaran kontrak sebelumnya belum dilunasi. Dari sini sekali lagi, Bepe mengajarkan para pemain sepakbola bagaimana seharusnya bersikap soal hak dan kewajiban seorang pemain sepakbola.

Dari semua itu, bagi saya, dan mungkin juga beberapa orang lain di luar sana yang memiliki kondisi dan perasaan yang serupa dengan saya. Bambang Pamungkas adalah orang yang berusaha mewujudkan mimpi kami menjadi nyata. Semua yang dilakukan Bambang Pamungkas (meski belum berhasil 100%), sedikit banyak telah merubah pemikiran bangsa Indonesia soal profesi pemain sepakbola. Bambang Pamungkas telah dengan sangat baik menunjukan bahwa pemain sepakbola adalah adalah profesi yang dengan pekerja profesional di bidang lain. Sama dengan seorang insinyur, dokter, psikolog, guru, dan semua profesi lainnya. Semua profesi yang membutuhkan seorang yang profesional untuk bisa menjalankan tugasnya. Sebuah profesi yang juga mamiliki masa depan. Dan menurut saya, inilah jasa terbesar Bambang Pamungkas bagi Indonesia. Bambang Pamungkas telah berusaha untuk membuat tidak ada lagi anak-anak di Indonesia saat ini maupun di masa depan, yang harus gagal menjadi pemain sepakbola karena orang tuanya menganggap pemain sepakbola bukanlah sebuah profesi yang layak.

Thank you Captain, Thank you legend.



Negri yang Tidak Lebih Cerdas dari Keledai

Kurang lebih 1 setengah tahun sudah saya membuat tulisan "Hanya Satu Tujuan: Kemajuan Sepakbola Indonesia". Ketika itu, secercah harapan terlihat bagi sepakbola Indonesia. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sepakbola nasional sedang mengalami masa-masa terbaik. Stadion penuh sesak saat pertandingan tim nasional berlangsung. Pembicaraan masyarakat pecinta sepakbola yang tadinya berkisar antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, ketika itu beralih ke Bambang Pamungkas dan Irfan Bachdim.

Saat itu juga, di sekitar Gelora Bung Karno, ribuan orang berkumpul meneriakan satu hal yang sama. Satu tuntutan yang ketika itu kita semua yakini sebagai satu hal terakhir yang menghambat kemajuan sepakbola Indonesia. Satu nama besar beserta antek-anteknya dianggap sebagai biang kerok terpuruknya sepakbola Indonesia di tahun 2000an, mereka harus turun dan digantikan dengan orang-orang baru. Beberapa bulan setelah itu, keinginan kita semua terwujud, sang tersangka utama beserta antek-anteknya turun dan orang-orang baru naik mengisi posisi yag ditinggalkan. Apa yang terjadi? Satu setengah tahun dari kejadian itu, Sepakbola indonesia semakin dalam keadaan yang memprihatinkan.

Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya kita melakukan kesalahan yang sama, menurunkan pemimpin busuk untuk kemudian menaikkan pemimpin lain yang tidak kalah busuk. Kesalahan yang dulu disesali Soe Hok Gie dan kini sepakbola Indonesia melakukan kesalahan yang sama.

Saya tidak menganggap remeh aksi yang dilakukan ribuan pecinta sepakbola Indonesia di GBK satu setengah tahun yang lalu. Aksi itu merupakan langkah awal yang sangat luar biasa bagi sepakbola Indonesia untuk mulai bangkit dari tidurnya. Yang saya permasalahkan adalah kita semua termasuk saya yang kemudian terlena dengan euforia semu ketika langkah awal tersebut berjalan dengan baik. Padahal masih banyak tugas-tugas besar yang harus kita lakukan untuk perkembangan yang kita inginkan. 

Ditambah lagi saat ini kita selalu sibuk membicarakan hal-hal yang tidak penting dan justru melupakan hal-hal lain yang sangat mendesak. Sudah bukan saatnya lagi kita membicarakan si anu harus turun jabatan si anu yang seharusnya naik mengisi jabatan. Tim yang ini tidak layak mengisi tim nasional, tim yang itu yang seharusnya lebih layak. Pemain itu tidak nasionalis karena masuk ke tim nasional yang salah. Dan berbagai topik-topik tidak penting lain yang entah mengapa sebagian besar masyarakat Indonesia tidak pernah bosan untuk membicarakannya.

Seteleh meragukan diawal dan memberikan harapan dengan mengalahkan Sinagapura 1-0, tim nasional Indonesia akhirnya harus tersingkir dari ajang Piala AFF setelah kalah 2-0. Dari sini kembali lagi bergulir wacana tentang tim yang kemarin bertanding bukanlah tim nasional Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia seharusnya bisa juara jika pemain-pemain yang seharusnya yang bermain. Benarkah seperti itu? saya rasa tidak. Coba kita lihat, menurut saya sektor yang mungkin paling tidak perform di tim nasional yang bermain di piala AFF kemarin adalah playmaker dan bek tengah. Oke, mari kita ganti kedua sektor tersebut dengan pemain terbaik yang saat ini kita punya. Playmaker terbaik yang kita punya saat ini saya rasa adalah Ahmad Bustomi dan center back terbaik kita saat ini adalah Hamka Hamzah, Maman Abdurrahman, Gunawan, atau silahkan masukkan nama terbaik menurut anda sendiri. Kemudian silahkan bayangkan sendiri di kepala Anda pertandingan melawan Malaysia dengan pemain-pemain tersebut. Apakah hasilnya akan berubah? Ya, tentu saja, berbeda komposisi pemain tentu akan merubah hasil pertandingan. Taapi apakah perubahan itu akan membuat Indonesia memenangkan pertandingan? Belom tentu. Jika posisi playmaker kita dipegang oleh Ahmad Bustomi maka akan terjadi pertarungan di lini tengah antara Bustomi dan kapten Malaysia Safiq. Menurut saya, Kapten Malaysia tersebut masih lebih unggul dibanding Bustomi. Sedangkan untuk center back, akan terjadi pertarungan antara center back Indonesia dengan Safee Sali. Siapa yang akan menang? Saya rasa 27 gol yang dicetak Safee Sali di ISL bersama Pelita Jaya bisa menjawab kompetensinya dalam mengobrak abrik pertahan terbaik yang dimiliki Indonesia.

Memasukkan pemain-pemain yang dinilai lebih layak secara skill mengisi posisi tim nasional mungkin akan meningkatkan kemungkinan tim nasional Indonesia bisa menjuarai piala AFF, tapi tidak dengan begitu tim nasional Indonesia menjadi superior dibanding yang lain. Karena faktanya, secara kualitas individu terbaik yang kita miliki saat ini tidak lebih baik dari yang dimiliki Malaysia, Singapura, apalagi Thailand. Sehingga, permasalahan yang dihadapi tim nasional Indonesia saat ini bukanlah komposisi tim nasional yang tidak tepat, bukan kesalahan dalam memilih ketua umum PSSI, tapi permasalahan tim nasional Indonesia yang sebenarnya adalah kita sudah tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Mereka sudah mulai membangun fondasi sepakbola sedangkan kita masih terus sibuk mencari kambing hitam kegagalan di masa lalu. Mereka sudah mulai memikirkan bagaimana mempersiapkan komposisi terbaik untuk Piala Dunia 2018, kita terlalu sibuk untuk memikirkan bagaimana caranya agar pemain yang masuk ke tim nasional bisa sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Pepatah mengatakan bahwa seekor keledai sekalipun tidak akan jatuh 2 kali di lubang yang sama. Lalu apa yang terjadi pada Indonesia saat ini bisa dikatakan lebih buruk dari keledai? Kita barkali-kali terjatuh pada permasalahan yang sebenarnya sama baik itu untuk urusan sepakbola ataupun bukan. Kita disibukan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting padahal ada banyak hal penting lain yang lebih mendesak untuk dipikirkan. Untuk kasus sepakbola saat ini, semua tidak akan berubah jika kita terus dalam keadaan seperti ini. Tidak perlu lagi kita mempermasalahkan kondisi PSSI dan KPSI yang semakin memuakkan. Sebagai rakyat biasa yang tidak memiliki kuasa apapun sulit bagi kita untuk bisa mengatur hal tersebut. Saya pikir lebih baik kita tinggalkan 2 organisasi idiot itu berkelahi, tidak perlu dihiraukan, dan mari sibuk untuk menyiapkan pembangunan sepakbola untuk masa depan. Bagaimana caranya? Ada banyak sekali. Yang paling dibutuhkan sepakbola Indonesia saat ini adalah pembinaan.

Timo Scheuneman (Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI) dan Taufik Jursal Efendi (Ketua Umum Asosiasi Sepakbola Indonesia) adalah 2 nama cerdas yang saat ini ada di dunia sepakbola Indonesia. Sebagai orang-orang yang sudah muak dengan keadaan sepakbola Indonesia seharusnya kita sibuk untuk membantu program kedua orang ini dalam membangun pembinaan usia muda di Indonesia. Kita membutuhkan sekolah sepakbola berkualitas lebih banyak, kita membutuhkan pelatih dan SDM berkualitas lebih banyak, kita membutuhkan fasilitas-fasilitas sepakbola yang lebih memadai, dan banyak lagi kebutuhan yang semuanya akan bisa terpenuhi jika seluruh suporter sepakbola bersatu dan bergerak membangun hal tersebut.

Mari kita mulai bangkit dan berjalan. Berhenti mengutuk PSSI yang tidak akan pernah berubah kecuali kita memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan para penguasa yang ada saat ini. Berhenti mengutuk dan mulailah membangun apa yang bisa kita bangun.

Jika ada yang setuju dengan saya, mari berdiskusi dan mulai bergerak secepatnya.

Sepakbola Indonesia Menuju Kehancuran

Beberapa minggu lalu media ramai memberitakan berita tentang posisi Indonesia yang masuk ke dalam golongan negara menuju gagal. Indonesia menjadi negara berperingkat 63 dari 178 negara yang dinilai oleh The Fund for Peace (FFP). Saya tidak terlalu memperhatikan bagaiman cara penilaian FFP dalam menentukan negara-negara gagal ini hanya saja saya cukup setuju dengan FFP. Terlepas dari kontroversi yang berkembang tentang isu ini, saya memiliki penilaian tersendiri dalam mengatakan Indonesia merupakan negara yang sedang berjalan menuju kegagalan. Sumber daya jelas bukan faktor yang membuat Indonesia bisa dikatakan sebagai negara gagal. Silahkan buka buku ensiklopedi apapun dan anda bisa mendapatkan data valid tentang betapa kayanya Indonesia. Bahkan komik Jepang "Fight Ippo!!" pun pada salah satu ceritanya sempat menggambarkan betapa Indonesia merupakan negara yang yang kaya akan sumberdaya alam. Faktor utama yang membuat Indonesia sangat layak dikatakan sebagai negara yang sedang berjalan menuju kegagalan adalah budaya. Budaya yang saya maksud disini adalah budaya buruk orang Indonesia yang entah mengapa sudah dianggap sesuatu hal yang wajar sehingga tidak lagi dianggap sesuatu yang buruk untuk dilakukan. Dan yang paling menyedihkan, banyak orang tua yang secara sadar atau tidak sadar mengajarkan budaya buruk tersebut kepada anak-anaknya serta ke generasi selanjutnya sehingga budaya buruk tersebut tidak hilang dari kebiasaan orang Indonesia bahkan semakin berkembang.

Dimulai dari hal-hal yang paling sederhana seperti buang sampah pada tempatnya, mengantri, tertib berlalulintas, dan beberapa hal lain. Sangat sering saya melihat seorang ibu dengan santainya membuang sampah baik dalam jumlah besar ataupun hanya sekedar bungkus permen didepan anaknya. Anaknya melihat dengan mata kepalanya sendiri dan saya jamin suatu saat anak tersebut akan meniru kelakuan sang ibu suatu saat nanti. Dalam sebuah antrian pemesanan makanan atau antrian lainnya pernah saya melihat seorang ibu memarahi anaknya karena terlalu lama mengantri, dan dengan tololnya sang ibu mengajari sang anak bagaimana cara menyelak antrian sehingga bisa dilayani lebih dulu. Kalau soal lalulintas tidak perlu saya contohkan lagi karena anda sendiri pasti sering melihat orang tua yang tanpa malu melanggar aturan lalulintas padahal disebelah atau dibelakangnya duduk sang anak yang akan merekam kelakukan orang tuanya dan siap untuk meniru. Dari setiap contoh yang saya sebutkan tersebut apa yang akan terjadi jika saya atau siapapun menegur orang tua tersebut karena telah mengajarkan hal yang buruk kepada anaknya? Sang orangtua dan mungkin mayoritas orang disana akan menganggap saya orang aneh yang 'lebay'. Ya, inilah Indonesia, negri dimana melanggar aturan adalah hal yang dianggap biasa dan disiplin adalah hal yang dianggap berlebihan.

Kembali kepada kalimat Franz Beckenbauer yang mengatakan bahwa sepakbola adalah refleksi sebuah bangsa, begitu juga yang sedang terjadi pada sepakbola Indonesia saat ini. Dengan berat hati sepakbola Indonesia juga semakin menuju kehancuran. Setidaknya jika kondisi ini tidak juga berubah. Beberapa hari yang lalu akhirnya saya berkesempatan menyaksikan beberapa pertandingan usia dini antar sekolah sepakbola. Pertandingan yang saya saksikan adalah pertandingan U-10 dan U-12 yang kebetulan diselenggarakan di area sekitar kampus saya. Pulang dari menonton beberapa pertandingan disana, saya membawa pulang kesedihan dan rasa miris pada masa depan sepakbola Indonesia. Sama sekali bukan hal yang aneh Indonesia tidak kunjung mendapat gelar hingga 20 tahun lebih jika kondisi di akar rumput seperti ini. Dan saya menjadi pesimis kalau sepakbola Indonesia bisa membaik pada 5-10 tahun ke depan.

Bukan karena anak-anak yang bertanding terlihat tidak bisa main bola atau tidak ada pemain berbakat yang terlihat. Mereka bermain cukup baik, secara teknik tidak buruk walau alur serangan cendrung sporadis tanpa perencanaan yang jelas tapi itu bukan masalah mengingat ini adalah pertandingan anak-anak dibawah 12 tahun. Bakat-bakat pun bisa saya lihat pada beberapa anak yang terlihat sangat mahir dan memiliki potensi menjadi pemain berbakat jika terus dilatih. Sama halnya dengan negara Indonesia, faktor utama yang membuat sepakbola Indonesia menuju kehancuran juga turunnya budaya buruk sepakbola Indonesia pada bibit-bibit masa depan negri ini. Dan yang menyedihkan lagi, budaya buruk tersebut secara terang-terangan diajarkan oleh para tenaga pengajar.

Budaya buruk yang pertama adalah permainan keras menjurus kasar yang kemudian wasit sebagai pengadil tidak menindaknya secara tegas. Saya tidak tahu lisensi apa yang dipegang oleh wasit yang memimpin pertandingan yang saya saksikan tapi wasit tersebut sama sekali tidak mengerti aturan permainan terutama masalah pelanggaran. Beberapa kali tackling keras dan permainan-permainan yang melanggar lainnya dibiarkan oleh sang wasit. Saya memang pernah membaca bahwa salah satu metode melatih anak usia dini adalah dengan sedikit melonggarkan peraturan sehingga mental sang anak menjadi lebih kuat menghadapi kekurangan-kekurangan wasit dan daya tempur pun semakin meningkat. Namun sepengetahuan saya metode ini dilakukan pada saat latihan bukan pertandingan. Disaat pertandingan peraturan berjalan sebagaimana mestinya. Tolong koreksi jika saya salah dalam hal ini.

Budaya buruk kedua yang saya lihat adalah permasalahan klasik Indonesia yaitu pencurian umur. Untuk hal ini saya tidak memiliki bukti sama sekali sehingga tidak cukup terpercaya kebenarannya. Hal ini 100% kecurigaan saya karena pada satu pertandingan salah satu tim ketinggalan 2 gol di babak pertama. Pada babak kedua tiba-tiba masuk seorang pemain dengan besar badan dan skill yang terlalu mencolok. Saya curiga jika memang ada pemain sebagus ini mengapa tidak dimainkan sejak awan dan malah baru dikeluarkan saat sudah tertinggal 2 gol. Yah, terlepas dari benar atau tidaknya kecurigaan saya ini kita tidak bisa memungkiri bahwa masalah ini masih terus berada pada pembinaan usia muda Indonesia.

Budaya buruk ketiga adalah mengintimidasi wasit. Untuk hal ini memang bukan anak-anak yang bertanding yang melakukan perbuatan hina ini. Namun para penonton yang notabene adalah para pelatih dan orangtua dari anak-anak yang bertanding yang melakukannya. Teriakan dari pinggir lapangan tersebut akan menjadi metode pelatihan yang sangat efektif agar suatu saat nanti sang anak akan melakukannya di dalam lapangan. Sehingga tidak perlu aneh lagi jika anda melihat pemukulan wasit pada liga profesional kita. Karena disaat mereka dalam masa pembinaan, para pelatih dan orangtua mengajarkan hal tersebut.

Satu budaya buruk terakhir merupakan inti dari kesalahan merode pelatihan yang dijalankan sekolah sepakbola Indonesia saat ini. Hal ini terlihat dari kebiasaan anak-anak tersebut untuk mengulur waktu permainan dengan tidak mengambil bola out dengan cepat dan berpura-pura cedera. Pertandingan U-10 dan U-12 ini benar-benar mirip pertandingan klub ISL (kalau IPL saya tidak tahu karena tidak pernah menonton). 5 menit sekali akan ada pemain dari tim yang sedang memimpin pertandingan yang terkapar seolah-olah mengalami cedera yang berat. Dan saya menyaksikan dengan jelas bahwa ini adalah instruksi dari sang pelatih.

Masa-masa usia muda hingga umur 18 tahun adalah masa dimana anak-anak menikmati permainan sepakbola untuk semakin mengasah kemampuannya. Latihan sepakbola bagi anak-anak umur ini dilakukan bukan agar anak tersebut bisa memenangkan sebanyak-banyaknya pertandingan melainkan agar anak tersebut bisa bermain dengan sebaik-baiknya. Xavi Hernandez mengatakan bahwa La Masia tidak pernah mengajarkan bagaimana caranya memenangkan pertandingan, tapi La Masia selalu mengajarkan bagaimana caranya agar bisa mengeluarkan performa maksimal. Bagaimana caranya memenangkan pertandingan baru akan diajarkan setelah melewati usia 18 tahun karena pada usia tersebutlah seorang anak akan memasuki dunia profesional yang menuntut hasil akhir pertandingan.

Kompetisi junior U-12 maupun U-10 seharusnya berjalan dengan penuh keceriaan. Anak-anak dibebaskan bermain dengan fantasinya masing-masing untuk mempraktekan semua teknik bermain sepakbola yang selama ini hanya berada dalam khayalan mereka saja. Ego orang-orang dewasa tidak seharusnya masuk ke dalam kompetisi yang masih dipenuhi dengan sifat polos dari setiap anak. Tidak perlu terlalu banyak instruksi dari pelatih, cukup berikan petunjuk agar mereka mencoba menerapkan setiap materi yang pernah dilatih sebelumnya. Sisanya, sang pelatih hanya bertugas untuk mengatur pergantian pemain untuk memberikan minute play kepada setiap anak.

Mungkin yang saya saksikan hanyalah satu kejuaraan usia muda dan hanya beberapa sekolah sepakbola, sehingga tidak cukup layak untuk menganggap bahwa semua kejuaraan dan sekolah sepakbola berjalan terjadi seperti ini. Hanya saja jika saya mengingat apa yang sudah terjadi pada kejuaraan-kejuaraan internasional yang diikuti tim nasional Indonesia, beberapa kali Indonesia berhasil menjadi juara untuk usia muda seperti U-13 kebawah. Namun entah mengapa Indonesia tidak pernah sekalipun berbicara untuk kompetisi tingkatan umur diatas itu. Dari sini saya jadi terfikir bahwa ketika kejuaraan itu Indonesia memang menjadi juara, namun negara lainlah yang berhasil mendapat ilmu lebih banyak dari kejuaraan itu. Indonesia pulang membawa piala, sedang negara lain pulang membawa ilmu untuk masa depan.

Memang terjadi dilema tersendiri bagi pihak sekolah sepakbola antara menegakkan idealisme dengan mengangkat reputasi sekolah. Di satu sisi dengan adanya prestasi akan membuat sekolah memiliki reputasi yang baik, sehingga semakin banyak anak mau bersekolah disana. Dan sayangnya satu-satunya prestasi yang bisa ditangkap oleh masyarakat hanyalah prestasi dari kemenangan kompetisi. Tidak banyak orang yang merekam sebanyak apa sekolah tersebut berhasil melahirkan pemain-pemain yang sukses di dunia profesional. Sehingga menjadi juara turnamen menjadi satu-satunya parameter berhasil atau tidaknya sekolah mendidik muridnya.

Hal inilah yang harus segera berubah dari sekolah sepakbola Indonesia dan masyarakat sepakbola Indonesia. Masyarakat harus lebih membuka matanya, sekolah mana yang hanya mengejar reputasi diri dan sekolah mana yang memang serius ingin melahirkan pemain-pemain berbakat. Karena saya yakin, tujuan anak masuk sekolah dan orangtua memasukkan anaknya ke sekolah adalah supaya menjadi semakin pandai, bukannya justru menjadikan anak hidup dengan penuh tekanan akibat dari ambisi para guru dari sekolah tersebut yang bisa berpotensi membuat anak menjadi stres.

Sepakbola merupakan olahraga kesukaan negri ini, tentu jutaan masyarakat negri ini berharap suatu saat sepakbola Indonesia bisa berbicara di level dunia suatu saat nanti. Sekolah sepakbola merupakan faktor terpenting akan hal ini, sepakbola Indonesia akan maju ataupun mundur ditentukan oleh sekolah sepakbola yang ada disini. Untuk itu sepakbola membutuhkan sekolahnya untuk bisa menjalankan perannya dengan baik. Dan sepakbola juga membutuhkan peran masyarakat untuk lebih bijak dalam menilai kualitas sepakbola dan memberikan penghargaan bagi sekolah yang telah menjalankan idealismenya dengan baik. Karena pelanggaran dan kesalahan kecil yang saya sebutkan tadi mungkin tidak memberikan dampak yang berarti saat ini, namun entah bencana apa yang akan terjadi beberapa tahun lagi karena pelanggaran dan kesalahan tersebut terus diwariskan turun temurun.

Tuan Rumah yang Tidak Ramah

Lagi-lagi, berita memilukan terdaengar dari pertandingan sepakbola. Ditengah kisruh yang tidak ada habisnya pada federasi tertinggi negri ini, masih harus ditambah berita duka dari teman-teman suporter yang baru saja selesai menyaksikan pertandingan sepakbola. Laga klasik antar dua musuh bebuyutan, Persija Jakarta melawan Persib Bandung, harus diakhiri dengan aksi pengeroyokan sekelompok suporter terhadap suporter lainnya yang berujung pada meninggalnya sang korban.

Belom selesai kesedihan kita melihat para pengurus PSSI bertengkar, kesedihan kita semakin bertambah dengan melihat suporter yang juga selalu berkelahi. Belum habis air mata kita melihat kegagalan demi kegagalan tim nasional Indonesia, kita  kembali dibuat menangis dengan gagalnya penyelenggaraan pertandingan liga.Saya tidak mau berbicara siapa yang salah atau siapa yang harus bertanggungjawab. Saya berada jauh dari lokasi kejadian sehingga sama sekali tidak tahu kejadian yang terjadi sebenarnya. Saya juga bukan the jak dan bukan juga bobotoh sehingga saya tidak cukup tahu seperti apa rasa persaingan yang sebenarnya terjadi diantara kedua kelompok suporter tersebut. Saya hanya ingin melihat dari sisi seorang suporter tim nasional Indonesia yang menangis dengan keadaan sepakbola yang tidak kunjung membaik ini.

Saat ini saya sedang menyusun skripsi yang mengambil Persib Bandung sebagai objek penelitian. Sekali lagi saya katakan saya bukan bobotoh, jika anda bertanya kenapa Persib Bandung jawabannya adalah karena saya suporter sepakbola Indonesia dan Persib Bandung merupakan salah satu bagian dari sepakbola Indonesia. Saya berfikir jika saya bisa memberikan satu nilai positif pada salah satu klub sepakbola Indonesia maka saya juga telah memberikan nilai tambah bagi sepakbola Indonesia. Akibat dari pengerjaan skripsi saya ini, sedikit banyak saya mulai mengetahui kondisi permasalahan yang dihadapi Persib Bandung dan sepertinya semua klub sepakbola di Indonesia.

Setelah dana APBD tidak lagi diizinkan untuk mengalir ke klub sepakbola, semua klub berusaha memperbaiki diri untuk bisa menyelesaikan permasalahan finansial yang mereka hadapi. Ini merupakan harapan kita semua, melihat klub sepakbola menjadi mandiri dan besar tentu harapan semua suporter sepakbola Indonesia. Kita tentu bermimpi ketika suatu saat salah satu klub sepakbola Indonesia bisa menginvestasikan dananya ke salah satu resort mewah di Dubai seperti yang baru saja dilakukan Real Madrid. Yah mimpi itu memang terlalu jauh jika melihat keadaan saat ini dimana menggaji para pemain saja banyak klub yang keteteran. Tapi mungkin kita tidak sadar bahwa kita sebagai suporter merupakan salah satu hal yang menghambat hal tersebut.

Beberapa teman saya mengatakan bahwa suporter sepakbola kita belum dewasa. Perkelahian kemarin merupakan satu kejadian yang mendukung pernyataan tersebut. Kalau memang kita mengaku suporter, maka seharusnya semua perilaku kita ditujukan untuk kemajuan klub yang kita dukung. bukan sekedar berteriak dan bernyanyi untuk menyemangati para pemain saat bertanding, tapi juga bagaimana sikap kita saat berada di luar pertandingan. Simpel saja, akibat kejadian kemarin, bisa dipastikan ada beberapa pengusaha yang kembali mengurungkan niatnya untuk menyumbangkan dananya di dunia sepakbola. Siapa yang mau memnginvestasikan dananya untuk acara yang berujung pertikaian. Ketika lagi-lagi Persija tidak diizinkan bermain di Jakarta, maka daya jual Persija Jakarta pun akan menurun drastis. Setiap sponsor yang menyuntikan dananya ke Persija Jakarta tentu melihat peluang dari fanatisme suporternya yang luar biasa. Namun apa lagi yang menarik kalau pertandingan Persija harus dilangsungkan diluar Jakarta.

Jika melihat lebih jauh, sikap tidak dewasa yang ditunjukan para suporter klub tersebut secara langsung telah membuat klub kesayangan mereka mengalami kerugian puluhan juta bahkan ratusan untuk setiap pertandingan kandang mereka. Mengapa saya bisa mengatakan seperti ini, berikut saya tampilkan data jumlah pengunjung stadion rata-rata untuk setiap klub ISL musim 2010-2011:
Dari tabel tersebut, Arema, Persipura, Persib, dan Persija merupakan 4 klub dengan jumlah penonton di station terbanyak. Yang terbanyak adalah Arema dengan rata-rata jumlah penonton 20.215. Namun, jika kita melihat ke kapasitas stadion yang ada, jumlah itu hanya sekitar 57% dari kapasitas Stadion Kanjuruhan yang sebanyak 35.000 penonton. Begitu pula untuk klub-klub lainnya yang hampir semuanya tidak sampai 50% dari jumlah kapasitas maksimal stadion. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Salah satu penyebab yang saya lihat adalah tidak adanya pendukung tim tamu di stadion. Setiap pertandingan Liga Indonesia hanya akan berisi pendukung tuan rumah. Padahal jika kita hitung secara kasar, misalnya 10% dari penonton di stadion adalah pendukung tim tamu maka Arema akan mendapat tambahan 2000 tambahan penonton di stadion. Jika harga tiket suporter tamu itu kita pukul rata Rp 50.000 maka dalam satu pertandingan Arema akan mendapatkan tambahan pemasukan Rp 100juta. Dalam satu musim dengan Arema akan mendapatkan pemasukan tambahan sebesar Rp 1,8 Milyar dari 18 pertandingan kandang yang diselenggarakan. Jumlah yang tentunya sangat berarti bagi klub sebagai biaya operasional tim. Dan suporter merupakan faktor utama yang membuat pemasukan itu tidak sampai ke klub.

Yah, memang tidak bisa dikatakan juga semua suporter sepakbola adalah brutal dan tidak dewasa. Saya bertemu dengan banyak suporter Persib Bandung yang sangat ramah ketika ikut menonton pertandingan Persib di Jalak Harupat dan Siliwangi. Padahal saya sama sekali tidak menghilangkan logat Jakarta saya sehingga sangat jelas bahwa saya bukan bagian dari mereka. Saya yakin kelompok suporter lain juga terdapat anggota-anggotanya yang sudah dewasa seperti ini. Seandainya semua suporter sepakbola seperti itu maka tentu saja sepakbola Indonesia akan lebih baik dari sekarang. Klub akan mendapatkan pemasukan lebih banyak, finansial klub lebih stabil, pemain lebih sejahtera, fasilitas meningkat, prestasi pun akan berdatangan. Suporter adalah penopang berdirinya sebuah klub, jadi mari tempatkan diri kita sebagai suporter yang tepat. Jangan justru membuat klub yang kita bela semakin terpuruk. Tugas kita cuma satu, menjaga nama baik klub kesayangan kita, dengan begitu secara tidak langsung kita sudah memberi nilai tambah bagi klub kesayangan kita tersebut. Berbeda klub kesayangan bukan berarti bermusuhan. Tanpa adanya suporter klub lawan maka tidak akan ada klub lawan tersebut. Tanpa adanya klub lawan maka klub kesayangan kita juga tidak akan ada.

Saya turut berduka cita atas kepergian suporter pada kejadian kemarin. Semoga amal ibadah mereka diterima disisi-Nya. Dan semoga hal ini bisa menyadarkan setiap suporter sepakbola agar lebih dewasa dan tidak ada lagi korban yang harus jatuh akibat menonton pertandingan sepakbola. Aamiin.

Persib vs Persela



Setelah hampir 5 tahun saya numpang tinggal di Bandung, akhirnya untuk pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung pertandingan tim kesayangan kota ini. Jujur, meski sangat menyukai sepakbola saya sangat jarang menyaksikan pertandingan Liga Indonesia. Tidak perlu dibahas mengapa alasannya, yang jelas mungkin bisa juga jika dikatakan bahwa pertandingan Persib vs Persela kemarin adalah pertandingan Liga Indonesia pertama yang saya saksikan dengan serius.

Persib harus rela berbagi angka dengan tamunya setelah hingga akhir pertandingan kedua tim sama-sama berhasil mencetak 1 gol. Tim tamu terlebih dahulu mencetak gol di menit 43', sedangkan Persib baru bisa menyamakan kedudukan di menit 88' melalui tendangan penalti Miljan Radovic. Kedua tim sama-sama menggunakan formasi 4-4-2, hanya bedanya Persib bermain lebih melebar dengan mengembangkan kedua sayapnya sedangkan Persela bermain cenderung rapat dengan melakukan pressing ketat di lini tengah.


Saya jarang menyaksikan pertandingan kedua tim ini, sehingga saya tidak begitu mengerti cara mereka main biasanya. Hanya saja yang saya lihat di pertandingan ini adalah Persib seperti tidak siap menghadapi pressing ketat dari Persela. Kedua sayap Persib naik jauh ke depan hingga sejajar dengan 2 striker dan meninggalkan sektor tengah hanya kepada duet Radovic dan Hariono. Hal ini menyebabkan pada 15 menit awal babak petama Persib gagal mengembangkan pertandingan. Selama itu Persib berulang-ulang gagal mengirim bola ke depan karena berhasil dipatahkan pertahanan Persela. Sejauh pengamatan saya hanya 1 atau 2 kali bola berhasil masuk ke kotak penalti Persela.

Menghadapi pressing ketat Persela, entah kenapa Persib ngotot bermain operan pendek, sedangkan pemain mereka sudah berdiri melebar jauh ke depan.

Saya tidak berhasil mengambil gambar langsung namun kurang lebih seperti inilah beberapa kali kondisi pertandingan (baju putih adalah posisi pemain Persela). Persib mencoba membuka serangan melalui bek sayap mereka yang ikut bantu menyerang. Ketika itu kedua sayap sudah berada sejajar dengan penyerang dan dalam pengawalan ketat bek Persela. Radovic dan Hariono pun tidak dalam posisi yang baik untuk menerima bola karena keempat pemain tengah Persela melakukan pressing dan mempersempit ruang gerak Radovic dan Hariono di tengah.

Mamic sepertinya langsung menyadari hal ini, permainan Persib kemudian sedikit berubah dengan melepas longball langsung dari belakang. Dengan pressing seketat ini Persela tentu akan membuat ruang terbuka cukup lebar antara bek dan gelandang. Namun sayangnya Persib masih tidak bisa memanfaatkan lubang besar yang dibuat Persela ini. Umpan jauh dari belakang memang berhasil sampai ke kaki pemain Persib di depan, namun kemudian keempat pemain yang sudah di marking ketat ditambah support minim dari rekan-rekannya membuat mereka tidak bisa berbuat banyak. Radovic dan Hariono berada jauh di belakang sedangkan kedua saya jauh di pinggir. Saya pikir dalam keadaan ini seharusnya kedua saya bermain lebih ke tengah untuk mengantisipasi bola lepas atau salah satu antara Radovic atau Hariono berdiri lebih naik mengisi ruang kosong yang dibuat para pemain Persela.

Masalah Persib belum selesai hanya di bagian penyerangan. Posisi bertahan Persib pun tidak dalam kondisi yang baik. Kedua sayap yang sepertinya memang diperintahkan untuk fokus menyerang membuat mereka melakukan kontribusi yang minim ketika bertahan. Otomatis kedua bek sayap Persib harus bekerja keras menerima gempuran Persela karena menjadi satu-satunya pelapis di pinggir. Jarak antara Radovic dan Hariono di tengah dengan bek pun cukup lebar. Beberapa kali pemain Persela berhasil mengambil celah ini, salah satunya berbuah gol ketika Alejandro Costa berhasil menerima bola dengan cukup bebas di celah antar Midfield dan Centerback Persib.

Di babak kedua keadaan tidak banyak berubah meski Persib memasukkan Nasuha dan Aliyuddin menggantikan Atep dan Airlangga. Meski hanya sesekali, saya melihat serangan balik dari Persela masih jauh lebih mengancam dibanding serangan Persib ke gawang Persela. Serangan Persib baru kemudian terlihat lebih menjanjikan ketika Robbie Gaspar masuk menggantikan Hariono. Gaspar cukup baik dalam mengalirkan bola ke depan sehingga variasi serangan Persib berkembang. Ketika itu pula M. ilham turut aktif masuk ke tengah untuk membantu pergerakkan Moses dan Aliyudin. Ditambah pressing Persela yang sudah sangat mengendur membuat Radovic dan Gaspar leluasa menguasai lini tengah. Akhirnya di menit-menit akhir pertandingan, Persib mendapat hadiah penalti akibat M. Ilham dijatuhkan ketika mencoba melakukan solo run, Radovic berhasil dengan baik mengeksekusi penalti tersebut.

Liga Indonesia musim ini masih menyisakkan cukup banyak pertandingan, sehingga seharusnya Persib masih memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan sekian banyak pekerjaan rumahnya untuk bermain lebih baik lagi. Namun semua analisis saya ini hanya bersumber dari satu pertandingan yang baru saja saya tonton, sehingga sepertinya tidak cukup valid karena saya tidak tahu seperti apa permainan Persib di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Hanya saja dalam pertandingan ini terdapat beberapa masalah besar yang harus diselesaikan Mamic jika ingin timnya bermain lebih baik, yaitu positioning antar lini, peralihan dari menyerang ke bertahan, dan kerjasama striker. Pada pertandingan kemarin saya tidak melihat sekalipun terjalin satu kerjasama yang menarik antar 2 striker yang dipasang Mamic, baik ketika Moses dan Airlangga maupun ketika Moses dan Aliyudin.